Laporan Khusus Oleh A. Handoko
Bidah (37) menutup kepalanya dengan potongan kardus pembungkus botol air mineral ketika awan merayap pergi meninggalkan matahari yang sedang bersinar terik. Inilah hari kedua Bidah berjemur di bawah "panggangan" matahari bersama rekan-rekannya sesama buruh.
Namun, panas siang masih kalah kuat dibandingkan dengan kegigihan Bidah dan rekan-rekannya memperjuangkan keinginan mereka. Bidah adalah satu dari sekitar 200 buruh PT Saraswati Garmindo, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, yang menggelar mogok kerja mulai Senin hingga Selasa (3/11).
"Kami meminta agar perusahaan menaikkan tunjangan makan dan transportasi. Masak uang makan dan transportasi masing-masing hanya Rp 500 per hari?" ujar Bidah. Sambil berkelakar, Bidah berujar, "Uang segitu mah buat beli cilok juga kurang, buat naik angkot juga baru duduk sudah disuruh turun lagi," kata Bidah.
Ungkapan satir itu terasa pedih bila menyimak keseharian hidup para buruh dalam mencukupi kebutuhan hidup mereka. Baida (26), buruh lain, mengatakan, mereka umumnya mendapat gaji pokok Rp 640.000. Setelah diitambah tunjangan dan uang lembur, gaji mereka setiap bulan pun tak sampai Rp 750.000.
"Untuk makan pada istirahat siang dan transpor saja sudah habis Rp 300.000 sebulan. Belum lagi kebutuhan anak untuk sekolah dan kebutuhan rumah lainnya. Gaji bulanan pasti langsung habis buat bayar utang. Istilahnya, kalau kami gajian, itu tinggal menerima struk wungkul (saja)," kata Baida.
Kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak diimbangi kenaikan upah memang membuat buruh kelimpungan. Istilah gali lubang tutup lubang, membayar utang dengan utang lagi, adalah hal biasa bagi mereka. Maka, mogok kerja menjadi pilihan terakhir buruh tatkala pengusaha tak merespons keinginan mereka. Sayang, negosiasi dengan manajemen tidak menguntungkan buruh yang sebagian besar merupakan tenaga kontrak.
Terpuruk?
Jajaran manajemen yang dipimpin Mr Jhossy dan Chandu Lal mengungkapkan, selama tiga tahun terakhir, bisnis garmen terpuruk. "Selama tiga tahun ini tak ada lagi ekspor. Kami juga hanya menjadi subkontraktor importir lain," kata Chandu.
Dengan kondisi itu, manajemen mengaku tak bisa berbuat lebih banyak, selain memberikan remunerasi sesuai ketentuan undang-undang. "Untuk tenaga kerja kontrak, kewajiban kami sesuai undang-undang di Indonesia adalah memberikan upah di atas upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Hanya itu yang bisa kami lakukan," kata Jhossy.
Eliyawati, Pengurus Unit Kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia PT Saraswati Garmindo, mengaku berat menerima hasil negosiasi itu. "Saya harus memberi penjelasan seperti apa lagi kepada kawan-kawan yang menunggu hasil negosiasi ini. Mereka berharap banyak agar tunjangan makan dan transportasi bisa naik," kata Eliyawati.
Buruh masih terus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka dengan tunjangan sekecil itu. Kemiskinan secara struktural memang menciptakan komunitas proletar yang seolah-olah tidak mengalami persoalan ekonomi. Itulah kelihaian kapitalis.
Selengkapnya
08 November 2009
Bertahan dengan Uang Makan Lima Ratus Perak!
28 Oktober 2009
Pemuda-pemudi dan Budaya Kapitalistik
Oleh Bintang Fajarbudi Semesta*
Pemuda-pemudi selalu menjadi pelaku utama di dalam sejarah pembebasan di seluruh dunia. Pada jejak sejarah dunia, Sumpah Pemuda yang ditetapkan pada tanggal 28 Oktober 1928 menorehnya.
Sumpah Pemuda merupakan salah satu titik pergerakan pemuda-pemudi Indonesia. Hampir bersamaan, pemuda-pemudi di masa 1900 - 1930 bergerak secara radikal melawan imperialisme kolonialisme negara-negara Barat. Mereka bergerak karena memiliki kesadaran kelas terjajah, militansi, dan kemauan besar untuk merdeka. Di masa itu dengan kepeloporan pemuda-pemudi, bangsa Indonesia bergerak dan bangkit secara nasional. Pergerakannya diteruskan menuju masa revolusi kemerdekaan Indonesia.
Lihat saja umur beberapa di antara mereka pada masa pergerakkan. Dimulai dengan Tirto Adi Suryo. Menurut Takashi Shiraishi di dalam bukunya Zaman Bergerak (1997), Tirto adalah orang pribumi pertama yang memulai pergerakan melalui jurnalisme. Tulisannya begitu memengaruhi massa rakyat untuk bergerak dan sangat mengganggu pemerintahan kolonial. Ia mulai memberontak pada usia 20 tahun (1900). Pramoedya Ananta Toer menyebutnya Sang Pemula (2007). Ia adalah pemula bagi pergerakan priyayi, umat Islam, sampai rakyat tertindas secara umum menentang kolonialisme. Dibangun olehnya Serikat Priyayi, kumpulan priyayi yang sadar untuk memerjuangkan suatu nation yang merdeka, kelak bernama bangsa Indonesia. Di sini awal mula kebangkitan nasional. Kemudian ia membentuk Serikat Dagang Islam (1909) dan berkembang menjadi Serikat Islam. Cikal bakal perlawanan pribumi menentang imperialisme kolonialisme.
Pada saat hampir bersamaan, di tempat yang berbeda, Kartini salah satu perempuan sadar di masanya, mulai bergerak. Pada usia remaja, ia menentang feodalisme dan patriarki. Saat itu juga, ia bergerak mengajar putri-putri desa. Kartini berhasil mendirikan sekolah pada usia 20 tahun (1903). Namun, ia wafat di usia yang muda, yakni 25 tahun.
Pejuang perempuan juga dilakoni oleh Dewi Sartika. Ia sudah bisa membaca dan menulis dalam bahasa Belanda saat berumur sepuluh tahun. Sejak kecil, Dewi Sartika berbakat menjadi pendidik kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Dengan keinginannya untuk maju, pada 1902, ia berhasil membangun sekolah rakyat pada usia 18 tahun.
Selanjutnya, Sutomo melanjutkan pergerakan nasional yang telah dirintis Tirto Adi Suryo. Ia bersama kawan-kawannya di sekolah Stovia membangun Boedi Oetomo pada tahun 1908 saat berusia 20 tahun. Sejak menjadi siswa, ia sudah menunjukkan benih-benih perlawanan terhadap kolonialisme bersama kawan-kawannya. Salah satu kawannya adalah Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara mulai bergerak saat ia masih menjadi siswa. Tepatnya saat ia berumur 19 tahun. Ia ikut membangun Boedi Oetomo bersama Sutomo. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa perjuangan politik harus dijalankan Boedi Oetomo. Namun, ia juga giat di dalam gerakan kebudayaan. Khususnya di dunia pendidikan.
Selain itu, ada Semaoen, putra proletar terdidik dan progresif. Pada usia 14 tahun (1903), ia bergabung di Serikat Islam Surabaya. Kemudian juga menjadi anggota organisasi Belanda, Indische Sociaal-Democratische Vereeniging. Ia merupakan anggota termuda paling cerdas, progresif, dan agitatif. Bersama temannya Tan Malaka, ia membangun Serikat Rakyat sebagai organisasi revolusioner proletar Indonesia pertama yang menjalankan gerakan revolusioner berbasis Marxisme-Leninisme.
Tan Malaka sendiri mulai menempuh gerakan revolusionernya pada usia 19 tahun (1919). Hatinya bergerak saat melihat ketimpangan sosial di daerah Perkebunan Deli. Tempat ia bertugas sebagai guru setelah menempuh pendidikan dari negeri Belanda (1912). Ia menjadi bapak revolusi Indonesia karena kegigihannya berjuang non kooperasi terhadap pemerintahan kolonial. Ia menempuh jalan revolusi sampai kematiannya. Sebagai seorang revolusioner, ia terlibat aktif membangun gerakan revolusioner proletar di seluruh dunia.
Tokoh lain yang berusia muda dalam memulai pergerakannya adalah Amir Syarifuddin. Ia ikut kegiatan di Volksraad pada tahun 1911 saat usia 14 tahun diajak oleh sepupunya. Pada tahun 1923, ia menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Haarlem. Sepanjang perjalanannya, ia dikenal sangat menentang kapitalisme. Ia dikenal begitu berani dan terus melawan meski disiksa oleh Belanda. Dengan keberanian dan dedikasinya di dunia politik, ia diangkat menjadi Perdana Menteri kedua Indonesia.
Soekarno, tokoh nasionalis yang memiliki nama besar, pun berjuang sejak usia remaja. Ia mulai bersinggungan dengan dunia politik pada usia 14 tahun (1915) saat tinggal dengan H. S. Cokroaminoto, pemimpin Serikat Islam. Begitu masuk ke perguruan tinggi, Soekarno makin giat berpolitik. Saat itu, ia memimpin studi klub di Bandung. Pada tanggal 4 Juni 1927, ia mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia, kemudian menjadi partai dengan nama Partai Nasional Indonesia. Sampai pada akhirnya, ia memimpin kemerdekaan Indonesia secara nasional.
Karakter pemuda-pemudi progresif masa itu sangat berbeda dengan masa kini. Kesadaran kelas tertindas mereka begitu tinggi. Kita sangat sulit menemukan Tirto Adi Suryo dan Kartini muda saat ini. Kita sulit menemukan dedikasi seorang pemuda-pemudi masa kini yang membela rakyat miskin dengan pemikiran yang cerdas, progresif, dan militan. Kebanyakan pemuda-pemudi masa kini merupakan generasi mie instan. Generasi “impor” dan siap santap dengan cita rasa yang seragam dan bergizi rendah.
Pola perilaku, karakter, dan penampilan mereka seragam, khususnya di kota-kota. Kita dapat amati dari sisi penampilan. Ada kesamaan model rambut, celana, baju dan kaos, sampai ke gaya bahasa. Yang lebih parah, jenis kulit juga dipaksakan serupa dengan kulit bangsa eropa. Pada sisi karakter, mereka individual, pragmatis, hedonis, konsumtif, dangkal makna, apolitis, sensual binal, tahyul, penakut, dan fatalis. Hiburan media yang digemari seputar gosip, sinetron, program setan-setanan, kekerasan, dunia germelap, dan musik pop cengeng yang semuanya artifisial. Seleranya berekreasi tidak jauh dari etalase komoditi dan ekstase.
Mereka kehilangan identitas keunikan dari tiap manusia, yakni otentisitas. Lebih dari itu, mereka telah kehilangan sisi manusia sosial (homo socio homini) yang selalu berdialektika untuk kebaikan bersama orang banyak. Landasan yang paling dasar dari perjuangan kelas. Tanpa itu, sensitivitas atas ketertindasan hilang dan aksi berlawan meringkuk di dalam kepatuhan irasional. Mereka adalah generasi runyam perubahan.
Kondisi yang sangat memprihatinkan dari pemuda-pemudi masa kini secara kolektif memperlihatkan fase sejarah perkembangan masyarakat yang sedang berjalan. Mereka hidup di dalam perkembangan masyarakat kapitalis. Mereka dituntut sesuai dengan budaya kapitalis. Bagi pemuda dari keluarga borjuis, keterlibatan mereka di dalam masyarakat kapitalis begitu menguntungkan. Sedangkan beberapa pemuda miskin mengalami kehilangan kesadaran kelasnya. Mereka terlena dengan konsumsi dan ekstase sehingga memaksakan diri untuk memenuhinya.
Selain itu, pemuda-pemuda miskin di desa terjepit di antara hilangnya lahan pertanian dan persaingan kerja yang tinggi di kota. Potensi kehilangan lahan pertanian sebesar 2,8 hektar per tahun (Agus Susewo, 2009). Sementara, akses pekerjaan begitu sulit karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Pada tahun 2009 saja, jumlah sarjana yang mengganggur sebanyak hampir satu juta sarjana (F. G. Winarno, 2009) dari 9,25 juta angkatan kerja yang menganggur. Belum lagi, jutaan anak-anak putus sekolah.
Bagaimana pun, kita tidak menyaksikan sebuah takdir yang terapung di permukaan laut. Tetapi di dalam dari permukaan itu telah terjadi penindasan terselubung yang dilakukan oleh negara dan imperialis-imperialis kapital terhadap generasi muda. Mereka seharusnya mengemban tugas pembebas rakyat. Justru yang terjadi, mereka tunduk di jalan penindasan yang begitu halus. Sehingga, banyak pemuda-pemudi tidak menyadarinya. Mereka sedang berhadapan dengan hantu kekuasaan. Kekuasaan kapitalis. Mereka tidak dapat melihat hantu itu karena dirinya sudah mengkristal ke dalam budaya masyarakat kapitalis yang sedang dijalani oleh mereka sendiri.
Budaya Kapitalistik dan Penindasan
Persemayaman budaya kapitalistik di generasi muda tidak melalui jalan kekerasan. Tetapi lewat penyusupan ideologi yang berpengaruh sampai ke wilayah privat. John B. Thomson (1990, dalam Lull, 1983) menjewantahkan kata ideologi dengan istilah "ideologi dominan". Istilah itu memperlihatkan bentuk-bentuk simbolis yang dipakai oleh mereka yang memiliki kekuasaan untuk membangun dan melestarikan hubungan dominasi (struktur sosial yang timpang).
Sedangkan Karl Marx dan Fredrich Engels menilai ideologi tidak lebih dari kesadaran palsu. Kesadaran yang mengacu pada nilai-nilai moral tinggi yang menutup kenyataan bahwa di belakang nilai-nilai luhur itu tersembunyi kepentingan-kepentingan egois kelas-kelas berkuasa, yakni kelas kapitalis. Sehingga, membentuk gagasan-gagasan dominan untuk membenarkan diri mereka sendiri.
Penyusupan ideologi dari kelas kapitalis gencar melalui media. Pada masyarakat kapitalis, media merupakan alat kelas dominan. Media memiliki peran sebagai penyebar ideologi dari kelas penguasa kepada rakyat. Media juga hamba pasar. Pada konteks ini, media merupakan alat kelas pemodal untuk menggandakan modal (keuntungan). Sehingga, yang dikandung media merupakan komoditi yang dijual di pasar. Risiko terbesar adalah pesan-pesan yang disampaikan media dikendalikan oleh pasar. Pesan yang menguntungkan bagi kepentingan pasar dan pemodal selalu diproduksi. Sementara, secara virtual tidak ada komunikasi antara sumber informasi dengan penerima saat memediasi pesan. Masyarakat sebagai penerima dipaksa pada posisi pasif. Sudah pasti dirugikan.
Media memiliki pengaruh dan kekuatan yang sangat besar terhadap kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan yang terus menerus disampaikan menjadi referensi yang berkesan dan melekat pada pikiran penerima. Pada akhirnya, media mereproduksi dan memproduksi budaya masyarakat (ide-ide, perilaku, dan produk budaya) sesuai dengan keinginan kelas dominan. Tanpa disadari, mereka menjadi penerus dan menjadi bagian dari masyarakat kapitalis.
Proses penyusupan ideologi yang terjadi di media juga berada di ranah dan instrumen ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Saat itu sebenarnya telah terjadi penguasaan sumber daya material yang memengaruhi khalayak. Ditegaskan oleh Marx dan Engles (Storey, 1995), bahwa kelas yang menguasai kekuatan material dalam masyarakat, pada saat yang sama menguasai kekuatan intelektualnya juga. Kelas yang menguasai alat-alat produksi material pada akhirnya mengendalikan alat produksi mental, sehingga gagasan dari mereka yang tidak menguasai alat produksi mental tunduk padanya.
Proses itu berlangsung sangat lama, sistematis, terorganisir, masif, dan berkembangbiak. Hasilnya sesuai yang dikatakan Marx (1985), perembesan kesadaran oleh kelas berkuasa mengembangbiakkan kesadaran palsu tidak hanya dalam kelas yang ditindas tetapi juga dalam kesadaran kelas yang menindas. Ideologi itu menyembunyikan sumber asali dominasi dan proses-prosesnya dari kesadaran kaum tertindas dan membuat segala sesuatu tampak wajar-wajar saja seperti tidak terjadi apa-apa.
Penyusupan ideologi (hegemoni) meminimal kontradiksi (pertentangan) dan antagonisme (perlawanan) pemuda-pemudi secara sosial dan etis. Tidak heran terlihat perbedaan cukup besar antara pemuda-pemudi di jaman pergerakan kemerdekaan dengan masa kini. Selain itu, gerakan pemuda-pemudi saat ini terasa tumpul dan terbatas. Sementara kelompok tua (kaum konservatif) yang berkuasa semakin mendominasi, mewariskan ideologinya kepada yang muda-muda.
Yang perlu dilakukan adalah mereproduksi kesadaran kelas pemuda-pemudi. Meski sangat terasa sulit karena berbeda dengan masa lalu. Penindasan kolonialisme pada masa lalu begitu kentara. Kondisi material yang begitu sulit memecut kesadaran mereka untuk melawan atau mati ditindas secara fisik dan mental. Yang sekarang terjadi adalah perembesan ideologi atau dominasi gagasan yang begitu kuat. Maka, konter hegemoni perlu dilakukan oleh barisan yang paling sadar kelas. Agar menghasilkan simbol-simbol perlawanan yang tepat, terarah, mudah diterima, dan dapat berkembangbiak untuk pemuda-pemudi yang masih dilenakan oleh budaya kapitalis yang sesungguhnya menindas. Di alam kapitalistik, persaingan sampai pada level tertinggi, yakni penghisapan atau penindasan, di segala lini kehidupan menjadi bumbu kunci dalam perjalanan sejarahnya. Semoga kelak muncul Tirto Adi Suryo dan Kartini muda. Harapan bagi pemuda-pemudi masih ada.
* Pemuda, aktif di Bingkai Merah, organisasi Media Rakyat.
Selengkapnya
27 Oktober 2009
Sumbang Tapi Benar - Kesaksian 1 Oktober 1965
Wawancara Heru Atmodjo dengan reporter Bingkai Merah Galih Prasetyo dan Yogi Suryana, 29 September 2009.
Peristiwa G 30 S merupakan lembaran kelam sejarah perjalanan bangsa ini. Peristiwa yang sebenarnya terjadi pada 1 Oktober dini hari itu masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Pembohongan publik yang dilakukan oleh negara memenuhi setiap sipnosis sejarah yang ada. Generasi muda diracuni oleh sejarah kepentingan rejim otoritarian Jenderal Suharto. Segala fakta diputarbalikan. Partai Komunis Indonesia dijadikan kambing hitam pelaku pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat. Cerita sejarah ini begitu berbeda dari temuan fakta-fakta sejarah beberapa akademisi.
Peristiwa G 30 S merupakan lembaran kelam sejarah perjalanan bangsa ini. Peristiwa yang sebenarnya terjadi pada 1 Oktober dini hari itu masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Pembohongan publik yang dilakukan oleh negara memenuhi setiap sipnosis sejarah yang ada. Generasi muda diracuni oleh sejarah kepentingan rejim otoritarian Jenderal Suharto. Segala fakta diputarbalikan. Partai Komunis Indonesia dijadikan kambing hitam pelaku pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat. Cerita sejarah ini begitu berbeda dari temuan fakta-fakta sejarah beberapa akademisi.
Stigmatisasi terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) membawa dampak besar setelahnya. Jutaan orang anggota dan simpatisan PKI dibunuh. Jutaan lainnya ditahan tanpa pengadilan. Stigmatisasi itu masih ada sampai sekarang. Komunisme dianggap sebagai paham sesat dan jahat tanpa diberi kesempatan rakyat untuk memelajarinya. Pemusnahan komunisme berarti pelanggengan kapitalisme yang akan membawa krisis di segala bidang masyarakat. Keadaan itu terjadi sampai saat ini.
Berikut ini wawancara dengan Heru Atmodjo (salah satu perwira Angkatan Udara yang saat itu berpangkat Letnal Kolonel). Nama Heru Atmodjo tercatat di dalam daftar lima orang Dewan Revolusi di bawah pimpinan Letkol Untung dan wakilnya Brigjen Supardjo.
Wawancara ini bertujuan untuk mengingatkan kembali ke masyarakat luas atas satu peristiwa yang mengubah perjalanan negara bangsa sampai saat ini. Selain itu, untuk menyebarluaskan versi sejarah yang sangat berbeda dari versi sejarah penguasa. Di dalam versi ini terlihat jelas dalang peristiwa G 30 S dan genosida 1965. Semoga pengungkapan ini mengingatkan kepada masyarakat luas atas bahaya kapitalis yang melakukan segala cara untuk menguasai suatu negeri yang melimpah sumber dayanya, bernama Indonesia.
Pertanyaan (P): Apa yang sebenarnya terjadi pada tanggal 30 September 1965?
Jawaban (J): Sampai sekarang peristiwa ini hanya dilihat saat 30 September 1965 tapi tidak dilihat sebelum tanggal tersebut. Saya katakan musuh bangsa ini adalah CIA (central intelegent agent). Pada 30 September serta 1 Oktober adalah puncak krisis di negara ini. Sejak dulu musuh besar bangsa ini adalah imperialisme dan kolonialisme belanda (zaman kemerdekaan) dan CIA (saat ini dan pada masa mempertahankan kemerdekaan). Pada 23 maret 1965, CIA mengadakan rapat di markas CIA untuk membahas situasi politik dan sosial di kawasan asia terutama asia tenggara. Topik utamanya adalah ada dua front yang mau tidak mau harus dihadapi USA, yaitu Vietnam dan Indonesia. Di Vietnam jelas perjuangan dan perlawanan terus dilakukan sehingga Perancis tidak berhasil menginjakan kakinya di Vietnam setelah PD II. Seperti yang dikatakan Bung Karno bahwa hasil perjanjian Versailles dan Piagam Perdamaian (Vatlantic Charter) adalah bentuk kelemahan dari life line imperialisme (rantai hidup imperialisme), sedangkan di Indonesia bung Karno sendiri pada Agustus 1964 menyatakan Politik Luar Negeri Indonesia adalah bebas aktif tanpa intervensi dan mengecam keras tindakan imperialisme USA.
Kita tidak bicara 1 Oktober 1965, tapi sebelumnya Maret 1965. Rapat puncak CIA yang dihadiri empat tokoh utama CIA di Manila, Filipina, Averell Harriman (veteran PD II sebagai anggota OSS-Office of Strategy Study, intel militer), William Bundy, Elsworth Bunker (juru runding dalam perdamaian RI-Belanda pada kasus Irian Barat), dan Howard P. Jones (duta besar Amerika di Indonesia selama tujuh tahun). Pertemuan itu menentukan sikap politik terhadap Indonesia.
Mereka mendapat perintah langsung dari Presiden Amerika Serikat Johnson pada waktu itu sebagai Ketua National Security Council (NSC). Pertama mereka membicarakan apakah politik luar negeri Amerika masih bisa diteruskan seperti adanya sekarang dimana kita (baca: Amerika Serikat) menghadapi Vietnam yang eskalasinya semakin gawat? dan Indonesia, Bung Karno Agustus 1964 menyatakan politik luar negeri Indonesia sangat mengecam keras Imperialisme Amerika. Jawabanya tidak mungkin diteruskan seperti sampai saat ini karena bagaimana tanggung jawab kita dihadapan kongres, rakyat kalau kita tidak merubah arah politk luar negeri Amerika Serikat. Dengan demikian dorong Soekarno untuk mengubah arah politik luar negerinya. Dijawab oleh Dubes Amerika serikat saat itu, bahwa saya ditugaskan untuk itu. Misi saya mendekati Soekarno agar mau mengubah arah politik luar negerinya. Tidak ada satu orang di dunia pun yang mampu mengubah sikap keras Soekarno yang anti Imperialisme Amerika Serikat. Jika demikian keadaanya habisi saja Soekarno. Dijawab oleh Dubes Amerika saat itu, usaha pembunuhan terhadap Soekarno sudah dilakukan dan semuanya gagal. Begitu pun Angkatan Darat pernah melakukan usaha kudeta, 17 oktober 1952 namun usaha tersebut gagal. Karena di tubuh AD tahun 1965, ada 3 faksi didalamnya, pertama faksi loyalis Soekarno, faksi loyalis Nasution, dan faksi lainnya. Solusi terakhir adalah memanfaatkan situasi terakhir di Indonesia tahun 1965 diwarnai oleh tajamnya sikap politik AD dan PKI, intinya adalah itu.
(P): Apakah benar PKI terlibat dalam peristiwa G 30 S (terlibat secara organisasi dan individu) ?
(J): Rapat rapat puncak CIA di manila, Filipina diputuskan agar PKI dibuat ke lubang kejatuhannya sendiri. PKI yang berambisi terhadap kekuasaan serta konflik menajam dengan AD digunakan CIA untuk merancang konflik dengan Soekarno (peristiwa 1965). Kemudian Amerika Serikat memulai rancangannya dengan menyebarkan berbagai macam isu seperti isu Dewan Jendral. Menurut saya itu bentuk rekayasa karena setiap informasi intelejen harus dilihat siapa sumber dari informasi tersebut. Isu Dewan Jendral ini tidak berasal dari para jendral yang dituduhkan tersebut. Pak Yani (Jenderal Ahmad Yani) mengatakan tidak ada Dewan Jenderal yang berkonotasi politis. Memang ada yang disebut Dewan Pertimbangan Tinggi (Wanjakti) yang bertugas membuat evaluasi di dalam menentukan siapa-siapa yang berhak mendapatkan pangkat jenderal. Alangkah bodohnya Pak Yani jika beliau yang membuat Dewan Jenderal tersebut karena beliau dulu pada masa perlawanan terhadap PRRI/PERMESTA adalah komandan yang tidak menyetujui pembentukan Dewan Banteng, Dewan Gajah, Dewan Menguni, dll.
Lalu ada isu mengenai sakit kerasnya Bung Karno. Isu ini juga sampai ke dalam tubuh AD. Para jenderal yang kemudian menjadi korban peristiwa 65 menanggapi isu tersebut kemudian mengadakan rapat untuk membicarakannya. Menurut mereka kondisi kesehatan bung karno lambat laun akan menurun. Permasalahan yang akan timbul kemudian adalah bagaimana proses pergantian kekuasaan ini akan berlangsung jika bung karno telah wafat, jika damai hal ini tidak masalah namun jika terjadi chaos tentu akan merugikan bangsa ini. Kemudian mereka membentuk satu panitia yang bertugas mencegah chaos tersebut. Panitia ini dipimpin oleh Mayjen Suwato (Seskowad). Inilah yang kemudian menurut saya sebagai Dewan Jenderal menurut beberapa kalangan.
Perwira muda di tubuh AD pun mengadakan rapat. Mereka adalah Kolonel Latief, Letkol Untung, Kapten Wahyudi serta dua orang yang mengaku utusan Ketua CC PKI DN Aidit, yaitu Syam dan Pono. Di rapat tersebut membicarakan mengenai isu Dewan Jenderal dan isu sakitnya bung Karno. Kemudian isu yang santer didengar adalah tanggal 5 Oktober 1965 Dewan Jendral tersebut akan melakukan kudeta terhadap Soekarno. Kemudian perwira muda progresif ini melakukan inisiatif untuk menghadapkan jenderal-jenderal ke Bung karno sebelum tanggal 5 hidup atau mati.
(P): Apa benar keterlibatan Angkatan Udara secara Institusi dalam peristiwa 1965?
(J): Setelah isu-isu yang berkembang di masyarakat mengenai Dewan Jenderal beserta sakit parahnya bung Karno, tanggal 9 April 1965 tempat logistik angkatan bersenjata di jalan Iswahyudi disabotase dengan diledakan. Setelah kejadian itu KASAU Omar Dhani berpidato di hadapan perwira-perwira AU menyikapi hal tersebut. Omar Dhani berpendapat Angkatan Udara kekurangan personil untuk mengantisipasi kejadian itu terulang kembali. Perekrutan anggota baru membutuhkan waktu dan biaya yang lama dan tidak sedikit. Maka diputuskan untuk merekrut anggota baru melalui sukarelawan-sukarelawan Dwikora dan Trikora dulu. Mereka kemudian ditempatkan di Kebon Karet, Pondok Gede dan dilatih oleh Mayor udara Suyono (Kepala Staff teritorial udara di seluruh wilayah Indonesia). Nama tempat Kebon Karet diputarbalikan faktanya sebagai Lubang Buaya. Lubang Buaya sendiri letaknya cukup jauh dari Kebon Karet. Di sana merupakan tempat mess perwira-perwira muda AU seperti saya yang belum menikah. Memang diakui bahwa mereka yang tergabung di dalam pelatihan ini sebagian besar terdiri dari mereka yang beraliran Komunis seperti Pemuda Rakjat, Sobsi, Gerwani, dll. Namun bukan berarti golongan nasionalis dan agama tidak ada. Mereka diwakili oleh Perti, Pemuda Marhean, GMNI namun memang jumlah mereka tidak terlalu banyak. Berjalannya kepelatihan tersebut ternyata diwarnai dengan berbagai macam isu-isu tidak sedap yang memojokan AU secara institusi. Diputuskan pada 26 juli 1965 kepelatihan tersebut dibubarkan. Walaupun telah dibubarkan, sukarelawan-sukarelawan ini masih berlatih dan menetap di sekitar Pondok Karet karena memang sebagian besar sukarelawan ini berdomisili di sekitar Pondok Karet. Mereka kemudian dimanfaatkan oleh para perwira-perwira muda progresif untuk membantunya menculik para jenderal-jenderal.
(P): Lalu bagaimana dengan isu the local friend army?
(J): Pada akhir Mei 1965, dokumen rahasia yang dikirim Dubes Inggris ke Kementerian Luar Negeri Inggris berisi armada laut Inggris akan menyerang Indonesia dengan bantuan tentara teman kita di Indonesia. Dokumen ini, menurut saya sebagai seorang intelejen, memang otentik (A1). Saya melihat adanya perbedaan mengenai cara penulisan. Di dokumen berbentuk telegram itu tertulis the local friend army dengan tulisan tangan. Menurut saya tulisan tangan “the local friend army” sangat tidak otentik.
P: Apa peran saudara di dalam peristiwa 65?
J: Saya sebagai pejabat Intel Angkatan Udara mendapatkan perintah dari KASAU Omar Dhani untuk mencari tahu mengenai peristiwa tersebut kepada Brigjen Supardjo. Apa yang sedang terjadi? Tujuan dari peristiwa tersebut? Seperti apa situasi terakhirnya? Namun, nama saya malah dikaitkan dengan Dewan Revolusi sehari setelah penculikan para jenderal di bawah pimpinan Letkol Untung dan wakilnya Brigjen Supardjo. Saya sendiri di hukum selama 15 tahun. Dua tahun di Ciamis bersama dengan anggota Politbiro CC PKI Sudisman. Tanpa satu hari pun saya mengurangi hukuman tersebut.
P: Bagaimana tanggapan bapak mengenai pembunuhan massal tanpa proses peradilan terhadap mereka yang dituduhkan terlibat dengan PKI dan peristiwa 1965?
J: Ribuan orang terbunuh pada masa itu. Oleh partai berkuasa di negara ini tidak menjadi persoalan. Saya pernah bertemu dengan anggota masyarakat Eropa. Mereka beranggapan tindakan militer Indonesia benar dan yang salah apanya! Coba mau ngomong apa kalau sudah begitu. Saya sendiri salah apa di hukum sampai 15 tahun. Saya menjalankan tanggung jawab dan perintah negara!! Sedangkan, tindakan militer membunuh ratusan juta rakyat Indonesia pada tahun 1965 dibenarkan oleh penguasa Indonesia sejak zaman Soeharto sampai sekarang. Ini adalah bentuk pelanggaran HAM terbesar dalam negara ini dan dibiarkan.
P: Apa harapan bapak terhadap negara atas penyelesaian kasus pembunuhan massal (genosida) 1965?
J: Konsep pembunuhan massal sudah jelas. Jangan melihat peristiwa 1965 dari 30 September tapi harus dilihat backgroundnya CIA. Terjadinya pembantaian tidak mempunyai tempat dalam hal perikemanusian. Pelakunya harus dihukum sekarang atau besok. Terhadap hal ini tidak dituntut waktu. Di Jerman, kejahatan Nazi masih bisa diperadilkan. Tidak dibenarkan menghilangkan hak hidup seseorang. Manusia lahir untuk hidup, untuk bekerja, dan lain-lain. Penghilangan hak ini secara paksa dan tidak manusiawi adalah bentuk pelanggaran HAM berat. Selama bukan korban yang mengurusi hal ini, tidak akan pernah tuntas kasus pelanggaran HAM itu. Contohnya kasus Aprteheid di Afrika Selatan. Semenjak korban (Nelson Mandela) menggugat, kasus tersebut dapat dituntaskan.
P: Pertanyaan berikut mungkin sedikit melenceng dari topik masalah 1965, namun berkaitan dengan membangun pergerakan di masyarakat dalam melawan ketidakadilan. Menurut bapak apa akar masalah disintergrasi bangsa yang saat ini kita alami?
J: Titik tolak bangsa ini adalah proklamasi 17 agustus 1945 dan UUD 1945, merupakan bentuk ekspresi atau pernyataan rakyat untuk bisa lepas dari penjajahan. Rakyat Indonesia tidak disadarkan oleh pemimpin negara ini bahwa musuh bersama negara ini adalah imperialisme dan kolonialisme. Jika kita tidak tahu siapa lawan kita maka kita akan terus menerus mengalami disintergrasi bangsa. Hal itu disebabkan adanya sistem yang tidak sesuai dengan cita-cita UUD 45. Jika pada prosesnya rakyat bisa disadarkan akan musuh bersama, maka rakyat yang sudah tersadarkan ini diberikan kebebasan front-front seluas-luasnya lalu mengambil kekuasaan atas nama rakyat.
P: Apa pendapat saudara mengenai gerakan kiri saat ini terutama dilihat dari krisis ekonomi yang saat ini kembali terjadi?
J: Di dunia dengan sistem seperti ada saat ini, krisis tidak bisa dihindari. Kenapa tidak bisa dihindari? Karena sistemnya berdasarkan pasar bebas. Ketika permintaan besar maka harga-harga menjadi menguntungkan bagi produsen. Ketika produsen berlomba menghasilkan barang, namun terjadi akumulasi ketidakmampuan dari konsumen untuk membeli barang maka terjadi krisis ekonomi, mulai dari PD I peristiwa malaise (1914) dan pada tahun 1939 krisis besar bagi mereka. Itu sebabnya orang yang memperhatikan makro ekonomi ingin keluar dari krisis yang menyengsarakan. Di belahan bumi lain masih banyak terjadi ketidakadilan dan itulah sebabnya timbul pemikiran Karl Marx berdasarkan kepada ekonomi kepentingan rakyat dan berlawanan dengan sistem pasar. Sebenarnya krisis yang terus dialami dunia ini adalah masalah krisis energi. PD I berkaitan dengan energi batu bara. Sedangkan pada PD II krisis energi minyak tanah. Dalam hidup ini hanya dua hal yang harus dimenangkan, individualistik atau kolektif, mana yang mau dimenangkan untuk masyarakat? Jika kalian berkuasa, mana yang mau dimenangkan? Kalian bisa melihat perjuangan tahun 45. Republik ini diperjuangkan kemerdekaannya bukan untuk para raja-raja tapi untuk rakyat indonesia. Di dalam tanah air kita yang kaya ini, ada produksinya dan ada distribusinya. Distribusi dan produksi akan selalu mengalami pertentangan jika masih menggunakan sistem kapitalisme, seperti departemen perdagangan, kamar dagang, dll. Seharusnya mereka tunduk terhadap produsennya bukan sebaliknya. Harus lebih mengutamakan pihak produsen bukan si pemilik modal. Di jaman Soeharto kaum tani yang paling menderita. Harga gabah ditekan sedangkan harga pupuk dan kebutuhan lainnya sangat mahal. Harga beras tidak boleh dinaikan dengan alasan untuk kepentingan bangsa namun yang ada justru kepentingan golongan. Kolektif, kebersamaan yang harus diperjuangkan, ekonomi kebersamaan, pendidikan kebersamaan, politik kebersamaan, dan bukan perorangan. Perorangan ada di dalam kolektif kebersamaan sedangkan kolektif kebersamaan tidak ada di dalam perorangan.
P: Berbicara mengenai gerakan sosial, apa perbedaan menurut saudara dari gerakan sosial saat ini dengan gerakan sosial kisaran tahun 50an - 60an?
J: Gerakan kiri saat yang lalu ditakuti tapi tidak bisa dihancurkan. Matikan saja dengan penghancuran dari dalam (contohnya kasus PRD). Banyak kemudian tokoh-tokoh kiri seperti Budiman Sujatmiko dan Dita Indah Sari malah bergabung dengan partai-partai politik yang jelas-jelas membiarkan ketidakadilan. Alangkah mirisnya ketika banyak aktivis yang kemudian malah lebih senang jalan-jalan ke cafe-cafe atau mal. Bagaimana itu? Lebih baik ketika menjadi aktivis yang langsung turun ke lapangan melihat kondisi riil dan langsung membantunya. Walau pun begitu tidak perlu pesimistis. Pergerakan tidak ada yang berhenti walau tidak ada yang maju karena hukum gerak adalah absolut. Namun, saya sedih sebagai orang yang mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan bangsa ini melihat situasi saat ini. Tokoh politik seperti Prabowo Subiyanto saat kampanye kemaren memang benar visi misinya untuk petani, pedagang, dll Namun, dalam praktek apakah benar tindakannya. Politik itu kotor dan tidak ada yang bulat. Tidak ada pergerakan sosial yang berhenti. Di dalam pergerakan sosial hanya soal waktu saja yang menentukan cepat atau lambatnya pergerakan sosial. Saya akan sangat sedih jika saat ini, tidak ada lagi pemikiran kritis yang dimiliki rakyat terutama kaum muda sehingga tidak mengerti siapa dan apa yang harus dilawan oleh bangsa ini.
Selengkapnya
25 Oktober 2009
Sepatu Butut untuk Tuan Bush
Catatan Aksi Anti-Bush
Oleh Andri Cahyadi, Kontributor Bingkai Merah dari Montreal, QC Kanada.
Montreal, Bingkai Merah - Cuaca pada hari ini memang tak seperti biasanya. Langit terlihat mendung. Gedung-gedung yang menjulang, seperti hilang ditelan pekat kabut. Orang di jalan-jalan terlihat lesu. Angin musim gugur datang melaju. Hawa dingin menyapu hingga menusuk tulang. Lima derajat celsius siang ini. Tapi, itu tidak membuat orang-orang enggan berdatangan.
Terletak di tengah-tengah kawasan sentra bisnis Montreal, Hotel Elizabeth adalah tempat Tuan Bush berpidato. Di muka jalan depannya orang-orang memang sedari tadi berteriak-teriak lantang, “Bush Terroris! Bush Teroris!”, serentak. Semuanya larut dalam pusaran emosi yang seragam. Meskipun cuaca tak bersahabat, orang-orang tetap datang dengan sadar bersama-sama memprotes, menyatakan sikap penolakannya kepada Tuan Bush.
“Bush! anda tidak diterima di sini, anda hanyalah pelaku penjahat perang tuan! Fuck Bush!”
Montreal merupakan kota yang kesekian bagi Tuan Bush dalam kunjungannya ke berbagai kota di Kanada dalam sebulan terakhir. Mantan presiden Amerika Serikat yang kini diingat dunia sebagai penyulut perang di abad 21. Tuan Bush, si mantan presiden Amerika yang telah membawa dunia ke dalam kancah peperangan dan membuat dunia Timur Tengah bagai neraka bagi kemanusiaan. Ia si dedengkot yang getol berkoar-koar soal propaganda “war on terror”.
Persinggahannya ke kota ini memang menyisakan ironi. Tuan Bush ditolak oleh mereka yang sejak awal memang anti segala kebijakan luar negeri administrasinya yang telah lalu. Mereka adalah oposisi, kelompok anti perang, anti imperialis-kapitalis AS, yang sungguh-sungguh tak senang jalan-jalan di kotanya dilalui oleh telapak-telapak kaki si pemimpin imperialis-kapitalis AS itu.
Namun, lain halnya dengan sekitar 1.000 orang warga Montreal yang berada di dalam hotel pada hari itu. Mereka menyambut kedatangan ramah Tuan Bush. Adalah mereka yang sebagian rela membayar $400 atau setara hampir empat juta rupiah untuk membayar satu harga kursi untuk mendengarkan pidato Tuan Bush. Pidato itu antara lain tentang isi curahan hati Tuan Bush selama menjabat sebagai orang no 1 di dunia yang lalu: bagaimana sebenarnya “trend” bisnis dunia ke depan ditengah-tengah resesi ekonomi dan kecamuk perang. Itu semua akan dikemukakan oleh Tuan Bush dalam rangka memenuhi undangan KADIN kota Montreal.
Aksi Muntadar al-Zaidi, sang jurnalis Irak pada Desember 2008 silam, memang telah menginspirasi ratusan massa di Montreal pada hari itu. Mereka bersama-sama melemparkan sepatu bututnya ke pelataran hotel yang dijaga ketat ratusan anggota polisi.
Setelah hari ini kemana pun Tuan Bush mengunjungi sebuah negara, dunia akan terus memberinya lemparan-lemparan sepatu butut, sambil berteriak, “Bush Terrorist!”, sang penjahat perang yang telah membunuh jutaan nyawa manusia pada abad ini melalui sebuah propaganda “war on terror”.
Selengkapnya
22 Oktober 2009
Rakyat Miskin Jatim Tolak Program Neolib SBY-Boediono
Surabaya, Prakarsa Rakyat - Sekitar 150 rakyat miskin Jawa Timur yang tergabung dalam Front Serikat Rakyat Miskin Indonesia (FSRMI) dari berbagai kota, Selasa (20/10), menggelar aksi unjuk rasa menolak program neoliberalisme SBY-Boediono.
Aksi yang diawali dengan “longmarch” dari Monumen Kapal Selam (Monkasel) Jl Pemuda ke Gedung Negara Grahadi Jl Gubernur Suryo itu digelar untuk “mewarnai” pelantikan pasangan SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wapres 2009-2014.
“Dalam beberapa tindakan yang lalu, SBY dan Boediono telah banyak menyengsarakan rakyat, karena itu kami menuntut SBY-Boediono jangan programkan Lanjutkan Neoliberalisme, tapi Hentikan Neoliberalisme,” kata humas aksi, Hendraven.
Di sela-sela aksi yang diikuti aktivis FSRMI dari Malang, Mojokerto, Jombang, Ngawi, Madiun, dan sebagainya itu, ia mengatakan SBY dan Boediono sudah terbukti melakukan liberalisasi dalam segala bidang dan hal itu harus dihentikan.
“Boediono sudah menjual aset negara kepada asing melalui PMA (penanaman modal asing), seperti privatisasi Exxon yang merupakan kekayaan kita, tapi kini dinikmati asing. Atau, kasus Bank Century yang diduga melibatkan Boediono telah merugikan negara Rp6,7 triliun,” katanya.
Sementara SBY sudah meliberalkan pendidikan melalui BHP (badan hukum pendidikan), meliberalkan buruh dengan melegalkan sistem kontrak, meliberalkan kesehatan dengan biaya yang mahal, dan banyak sistem neolib lainnya.
“Karena itu, kami menuntut proyek-proyek neolib di Indonesia harus dihentikan dengan mencabut UU yang proliberal, di antaranya UU 12/2003 tentang Ketenagakerjaan, UU 22/2001 tentang minyak dan gas, UU 25/2007 tentang Penanaman Modal, UU 9/2009 tentang BHP, UU Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan sejenisnya,” katanya.
Selain itu, FSRMI Jatim juga menuntut penuntasan kasus Bank Century, nasionalisasi pertambangan asing, penghapusan utang luar negeri yang kini telah mencapai 160,64 miliar dolar AS atau minimal dengan moratorium, dan mendorong industri nasional melalui skema penyaluran kredit negara untuk rakyat.
Aksi yang berlangsung dengan pengawalan ketat aparat kepolisian itu, para aktivis FSRMI dari berbagai daerah itu juga membentangkan huruf-huruf H-E-N-T-I-K-A-N dalam ukuran besar setinggi tubuh manusia serta sejumlah poster yang antara lain OutsourcingNeolib, BHP Neolib, dan sebagainya.
Selengkapnya
21 Oktober 2009
Kemiskinan:Sehari Hidup dengan Rp 4.000
Oleh : Neli Triana
Nyeruput teh dulu di sini, Neng. Panas banget,” ajak Kusnan (47) sambil menuju lapak warung minuman di sudut Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, Selasa (20/10). Setumpuk celana pendek dagangannya disampirkan di sandaran kursi plastik. Tas pinggang dibukanya, hanya tampak empat lembar uang ribuan dan buku catatan kecil kumal.
Kusnan mencomot sepotong tempe goreng dan meneguk teh hangat, makan siangnya hari itu. ”Beginilah, sudah dari jam delapan keliling pasar, baru empat orang yang bayar kredit celana. Kalau lagi untung, setengah hari begini sudah dapat Rp 15.000, bisa makan nasi saya,” katanya.
Kusnan salah satu dari banyak penjual pakaian secara kredit dengan daerah operasi di pasar-pasar dan perkampungan di Jakarta. Selain celana pendek, dagangan mereka antara lain daster, pakaian anak-anak, celana jin, busana muslim, hingga pakaian dalam perempuan.
Konsumen mereka mulai dari pekerja di pasar, pemilik lapak-lapak kecil, hingga ibu-ibu rumah tangga. Harga dagangan mulai dari Rp 10.000 untuk tiga pakaian dalam anak-anak sampai Rp 200.000 untuk satu setel busana muslim plus kerudung atau jilbab. Waktu dan besar cicilan disesuaikan dengan kemampuan konsumen.
Harga celana pendek dagangan Kusnan, misalnya, rata–rata Rp 10.000-Rp 20.000. Yang berminat cukup membayar Rp 1.000 per hari. ”Setiap hari, paling tidak ada satu sampai 20 celana bisa saya jual. Cicilan pertama dibayar saat itu juga. Pemasukan lain dari nagih ke pembeli sebelumnya. Sayangnya, selalu saja ada yang menunggak, bahkan tidak bayar karena pindah atau benar-benar tidak punya uang. Mau ditarik barangnya tidak mungkin, sudah telanjur dipakai,” katanya.
Kusnan menambahkan, ia mengambil celana itu dari perajin konveksi yang juga tetangga sebelah rumah petak kontrakannya, tak jauh dari Pasar Cipulir. Bergantung model, bahan, dan ukuran, celana jualannya dipatok Rp 6.000-Rp 12.000 per potong. Kalau lancar, Kusnan sebenarnya bisa untung Rp 4.000-Rp 8.000 setiap satu celana yang lunas terbayar.
Sekitar enam tahun lalu, Kusnan mengaku memiliki lapak kecil tempat ia dan istrinya berdagang pakaian di dekat Pasar Kebayoran Lama. Namun, nasib membawanya menjadi korban gusuran. Lusinan pakaian dan lapak disita petugas, tak pernah kembali. Tanpa modal, Kusnan kesulitan memulai lagi membuka usahanya.
”Saya sudah dari umur 15 tahun merantau dari Tegal, Jawa Tengah, ke sini. Pernah jadi tukang batu sebelum akhirnya bisa buka lapak. Setelah digusur, istri dan tiga anak saya masih butuh makan. Ya sudah, jadi tukang kredit celana. Pendapatan turun, tetapi antigusuran,” katanya tergelak.
Bagi Kusnan, tidak ada alasan untuk tidak tertawa di sela-sela keletihan akibat berkeliling Pasar Cipulir dan kampung-kampung di sekitarnya. Selasa kemarin, jika nasib baik belum menghinggapinya, dipastikan hanya kurang dari Rp 4.000 yang bisa diberikannya kepada sang istri. Yang penting usaha, tegasnya.
Belum tersentuh
”Mau tidak mau, harus mau. Tidak ada yang menolong. Kucuran kredit dari pemerintah kata Neng? Tidak pernah ditawarkan ke kami. Tempat untuk pedagang kecil saja susah, apalagi bantuan modal. Mungkin karena kami enggak punya, jadi enggak pernah ditanyain maunya apa?” tambah Kusnan.
Pekerja nonformal seperti Kusnan hanyalah segelintir orang yang terselip di antara jutaan warga miskin. Di jalanan Ibu Kota, sudut-sudut perempatan, hingga kolong jembatan, tampak kehidupan orang-orang yang tidak punya jalan keluar menggantungkan hidup dari mengemis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2009, tingkat kemiskinan sekarang mencapai 15,4 persen dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia. Bagaimana mengentaskan mereka dari kemiskinan?
Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden baru, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Apalagi dalam pidato kenegaraan saat dilantik di Gedung MPR/DPR, Selasa kemarin, SBY menekankan bahwa target utama kinerja pemerintahan dalam lima tahun ke depan adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Masyarakat masih menunggu bisakah target periode pemerintahan terdahulu mereduksi angka kemiskinan menjadi 8,2 persen terpenuhi dalam lima tahun ke depan? Lihat saja nanti.
Selengkapnya
Marcel tidak kembali juga. Dia seperti serpihan dari pesawat luar angkasa yang meledak di ruang hampa, lepas dari jangkauan grafitasi bumi. Hilang. Begitu pula, Sadeli. Kata H, menurut Mulya Loebis, Sadeli mungkin sudah dieksekusi. Jati dan Reza sudah kembali.
